My ParADisE

- r A's posts with tag: aku cinta padamu

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag aku cinta padamu
ReviewReviewReviewMengapa Pria Sulit Berkata " Aku Cinta Padamu"Jun 29, '07 1:59 AM
for everyone
Category:Other
Mengapa PRIA Sulit Berkata Aku CINTA padamu

*****

Meskipun telah hidup bersama puluhan tahun, antara pria dan wanita
masih muncul perasaan mereka tak dapat memahami satu sama lain. Sesuatu
yang oleh wanita dianggap penting untuk dibicarakan, tidak penting bagi
pria.

Masih nggak ngerti juga ya, tulis Enrico lewat pesan singkat teleponnya
(SMS) ketika Cory, istrinya, bertanya lewat media yang sama, apakah ia
sungguh-sungguh mencintainya. Bukan jawaban seperti yang diharapkan
Cory. Ia ingin sekali suaminya berkata, Ya, aku sangat mencintaimu,
atau Aku cinta padamu, atau, Kamulah satu-satunya wanita yang aku
cintai, dan sejenisnya. Kalau tak bisa secara langsung diucapkan lewat
bibirnya, melalui pesan SMS pun tak jadi soal. Tapi harapan Cory masih
sia-sia.

Enrico dan Cory, sebutlah begitu nama pasangan ini, memang sering
berkomunikasi lewat SMS, termasuk untuk urusan perasaan yang dalam. Hal
itu sengaja ditempuh Cory, karena ia kehabisan akal untuk membuat
suaminya dapat mengungkapkan isi hatinya.

Kalau diajak diskusi tentang sesuatu yang jadi minatnya, wah, dia
semangat sekali. Tapi coba diajak bicara tentang perasaannya, dia
langsung diam, kata Cory. Wanita ini sering memancingnya dengan
menceritakan perasaannya, tapi ia hampir tak pernah mendapatkan respon.
Enrico hanya mendengarkan saja, dan bahkan lebih sering segera
mengalihkan topik pembicaraan.

Kenapa ya, pria kok sulit sekali mengungkapkan perasaan hatinya? tanya
Cory.

Berbeda Cara

Bukan hanya sulit mengungkapkan perasaan hatinya yang paling dalam.
Pria umumnya sulit diajak bicara mengenai hal-hal yang menurutnya tidak
penting dan tak perlu dibicarakan. Seperti soal masih cinta apa tidak
itu.

Deborah Tannen, seorang doktor linguistik dari Universitas California ,
Berkeley , AS , yang menghabiskan 17 tahun waktunya untuk meneliti
percakapan pria dan wanita, berkesimpulan bahwa antara kedua jenis
kelamin ini memang memiliki gaya berbicara yang berbeda.

Kaum pria cenderung menggunakan bahasa demi mempertahankan
'kemerdekaannya' dan memelihara posisinya dalam kelompok. Bagi pria,
orang yang memberi perintah ada 'di atas' dan yang menerima perintah
ada 'di bawah'. Sedangkan wanita menggunakan bahasa untuk menciptakan
hubungan dan keintiman. Tujuannya adalah terlibat dengan orang lain.
Tentu saja perbedaan gaya berbicara ini dapat menimbulkan kesulitan dan
konflik di antara keduanya.

Antara pria dan wanita memang ada perbedaan pandangan mengenai apa itu
komunikasi. Bagi pria berkomunikasi berarti, Bila ada topik penting
untuk didiskusikan, misalnya ada mobil yang akan dibeli, ya mari kita
bicarakan. Padahal bagi wanita berkomunikasi berarti meneguhkan
keintiman dengan saling mengutarakan pikiran, pengalaman sehari-hari
maupun masalah-masalah ringan.

Dianggap Beban

Lantas bagaimana pria mengekspresikan keintiman, bila tidak melalui
komunikasi verbal?

Menurut DR. Tannen, keintiman bagi pria berarti melakukan sesuatu yang
sama secara bersama-sama. Mereka tidak merasakan adanya kebutuhan untuk
berbicara secara akrab.

Ia memberi contoh sepasang suami istri yang telah menikah selama 57
tahun. Ketika istrinya sakit, si suami sangat khawatir. Tapi dia tak
berpikir untuk memperlihatkan keprihatinannya secara verbal (melalui
kata-kata).

Kata-kata yang keluar dari bibirnya malah, Kamu mau aku antar ke
dokter'? Tak terpikir oleh si suami untuk misalnya berkata, 'Oh, gimana
rasanya? Aku jadi khawatir, nih. Mulai kapan sakitnya?'

Tidak ada ungkapan yang bernada simpati sedikit pun. Ada kesan, pria
menafsirkan rumah tangga yang menyenangkan sebagai, Jika aku pergi
sepanjang hari untuk meningkatkan diriku, maka saat aku pulang ada
seseorang yang menerimaku. Jadi tidak perlu ada pembicaraan. Itulah
bedanya.

Seorang wanita ketika pulang ke rumah justru merasa, Aku sudah harus
selalu berhati-hati sepanjang hari. Jika aku berbicara banyak, orang
menganggapku agresif. Kalau sampai berkata salah, aku menyakiti hati
orang lain atau memulai pertengkaran. Sekarang aku bisa bebas berbicara
di rumah. Ternyata keliru.

Maka tak heran jika wanita sering mengeluh, setiap pulang kerja
suaminya tidak pernah bertanya bagaimana keadaannya selain di kantor
dan sebagainya. Bagi wanita, ditanya berarti ada perhatian. Tapi bila
diprotes mengapa tidak pernah bertanya seperti itu, biasanya suami akan
menjawab, Kalau memang ingin bercerita, ceritalah. Kenapa musti
diminta?

Memang sulit bagi pria menerima keinginan wanita untuk berbicara.
Ketika wanita menceritakan kesulitannya sehari-hari, pria menganggap
bahwa apa yang diceritakan itu telah terpecahkan.

Pendek kata, menurut Tannen, antara pria dan wanita memang beda
pengertian tentang perhatian. Bagi pria tuntutan akan perhatian menjadi
semacam beban, sebaliknya wanita bingung kenapa dirinya tidak
diperhatikan.

Sejak Kecil

Menurut Tannen, perbedaan gaya berkomunikasi antara pria dan wanita ini
dimulai sejak masa kanak-kanak.

Anak laki-laki umumnya bermain dalam kelompok yang hirarkis, di mana
bahasa mereka gunakan untuk membangun status dengan memberi perintah,
menunjukkan apa yang mereka ketahui, melontarkan humor dan membuat diri
mereka sebagai pusat perhatian.

Berbeda dengan wanita. Kaum Hawa di masa kecil itu cenderung memilih
satu teman dekat yang dapat diajak berbicara apa saja. Karena itu
ketika dewasa pun mengharapkan ada satu orang, dalam hal ini pasangan
hidupnya yang dapat diajak berbicara tentang apa saja.

Kalau sudah tahu bahwa antara keduanya memang berbeda, apakah kita
perlu memaklumi saja perbedaan cara berkomunikasi antara pria dan
wanita itu?

Tapi bukankah selalu ada cara untuk mendekatkan perbedaan itu dan
berkompromi?


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help
Template design Copyright © 2005 Jeff Miller